riauidcom | Berita Riau Terkini

Wow, virus jembrana membunuh 1.600 ekor sapi di Riau

Jembrana Membunuh 1.600 Sapi di Riau Selama September 2016 Hingga Maret 2017

Jembrana Membunuh 1.600 Sapi di Riau Selama September 2016 Hingga Maret 2017
Sapi jenis Bali milik peternak Rohul, Riau, mati terserang virus jembrana

PEKANBARU — Dinas Peternakan dan Perawatan Hewan Provinsi Riau mencatat ada sebanyak 1.600 sapi peternak yang mati karena terserang virus jembrana sejak September 2016 hingga Maret 2017.

Kematian ribuan sapi di Riau merupakan angka kumulatif yang terjadi di kabupaten/ kota, termasuk Kota Pekanbaru. Sapi peternak yang mati karena menderita penyakit jembrana, dan semuanya dari peternakan milik masyarakat.

“Semuanya, termasuk (Kota) Pekanbaru. Data kematian sapi akibat penyakit jembrana ini tercatat antara September 2016 hingga Maret 2017,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Perawatan Hewan Provinsi Riau Patrianov, Kamis (19/10/2017).

“Karena memang tahun kemarin tidak ada ternak bantuan. Ini semuanya ternak masyarakat. Sebagian besar dari sapi itu karena tersangkit penyakit jembrana,” jelas Patrianov, dikutip dari Riauterkinicom.

Patrianov mengaku upaya sudah dilakukan oleh pemerintah seperti melakukan vaksinasi dan pengobatan. Untuk sementara, diklaim angka kasus sapi mati karena jembrana perlahan mulai turun.

Namun demikian masalah seperti ini tidak bisa diabaikan, sebab jika vaksinasi berhenti dikhawatirkan kasusnya kembali meningkat.

“Masalahnya pabrik vaksin jembrana ini hanya ada satu, yakni di Surabaya. Sementara kemampuan daerah Riau untuk memberi vaksi itu terbatas anggaran. Alokasi anggaran memang tidak kuat untuk memenuhi kebutuhan semuanya,” jelas Patrianov.

Dampak terbesar dialami masyarakat yakni kerugian dalam bentuk materi. Sebenarnya, diakui Patrianov, sapi ternak bisa sembuh dari penyakit jembrana setelah divaksinasi dan pengobatan.

Namun masyarakat mudah terpengaruh dengan rayuan pedagang sehingga mereka menjual sapi ternak secara paksa dengan harga murah tentunya.

“Jadi ini lebih pada faktor provokasi pedagangnya sendiri, sehingga peternak takut dan menjual sapi mereka,” pungkas Patrianov. (sul)

 

 

Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan