riauidcom | Berita Riau Terkini

Perbatasan Riau-Sumut Rusuh Lagi, Dua Petani Rohul Luka

Perbatasan Riau-Sumut Rusuh Lagi, Dua Petani Rohul Luka dan Mengadu ke Polsek Tambusai

Perbatasan Riau-Sumut Rusuh Lagi, Dua Petani Rohul Luka dan Mengadu ke Polsek Tambusai
Sepeda motor milik petani Batang Kumu dirusak puluhan karyawan perusahaan di perbatasan Riau-Sumut

ROKAN HULU — Perbatasan antara Provinsi Riau-Sumatera Utara (Sumut)‎, di Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, kembali rusuh.

Para petani Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai yang tengah berada di lahannya kembali diusik puluhan orang, diduga karyawan PT. Mazuma Agro Indonesia (MAI) yang membawa senjata tajam Rabu kemarin.

Akibat didatangi puluhan karyawan, petani Rohul lari tunggang langgang ke segala arah, dan sedikitnya dua petani mengalami luka dan harus dibawa ke Puskesmas Tambusai.

Hingga Kamis (19/10/2017), suasana di perbatasan masih lengang. Hanya saja, sejumlah warga masih berjaga untuk melihat apakah kelompok warga yang diduga karyawan PT MAI masih melakukan penyerangan ke warga.

Acaman puluhan orang yang membawa senjata tajam, mengakibatkan sedikitnya 2 petani Kali Kapuk Desa Batang Kumu mengalami luka di bagian atas mata dan atas pelipisnya.

Peristiwa tersebut sudah dilaporkan ke Mapolsek Tambusai, sesuai Nomor: STPL/ 149/ X/ 2017/ Riau/ Res Rohul/ Sek. Tambusai, dengan isi laporan perkara tindak pidana pengancaman dan perusakan sepeda motor.

Kedua warga alami luka, yakni Andi Pakpahan (31) dan Albert Simanjuntak (55),‎ sempat dibawa warga Batang Kumu ke Puskesmas Tambusai. Andi luka cukup parah di atas bagian matanya hingga harus mendapatkan 10 jahitan.

Andi Pakpahan warga Kali Kapuk Desa Batang Kumu‎ menyatakan, semula dirinya dan sejumlah rekannya sedang memanen kelapa sawit di kebun milik warga, Rabu. Saat sedang memanen, sekitar 70 orang yang diakui warga karyawan PT. MAI menghampiri mereka seraya mengacungkan senjata tajam sejenis samurai.

Diancam seperti itu, Andi dan rekan-rekannya melarikan diri. Naas, dirinya terjatuh dan pingsan. Setelah sadar dan diselamatkan warga, Andi mengaku merasa sakit di bagian atas matanya dan banyak darah mengalir hingga mengalir ke bagian mulutnya.

“Akibat dikejar aku lari. Aku tidak tahu mengapa bisa luka, karena tidak sadar. Di bagian punggungku sakit sekarang,” ucap Andi, Rabu sore.

Andi dan Albert, dua petani Batang Kumu yang mengalami saat dikejar puluhan karyawan perusahaan perbatasan Riau-Sumut

Andi mengaku baru sadar saat sudah dibawa ke kampung oleh warga. Dari hasil visum di Puskesmas Tambusai, korban sempat mendengar petugas mengatakan kalau luka di atas matanya yang mendapatkan 10 jahitan akibat benda tajam.

Hal serupa juga dialami Albert Simanjuntak, pria 55 tahun ini juga lari karena didatangi sekira 70 karyawan PT. MAI lengkap dengan senjata tajam.

Diakui Albert, dirinya lari karena‎ diancam akan dibacok. Saat lari dirinya terjatuh. Bagian atas pelipisnya juga mengalami luka hingga dirinya juga dibawa ke Puskesmas Tambusai. Bahkan diakui sejumlah petani, saat terjadi kerusuhan, mereka sempat mendengar dua kali letusan seperti letusan suara senjata api, sehingga petani lain memilih menghindar.‎‎

Mendengar ada petani dianiaya di perbatasan Riau-Sumut, ratusan warga Desa Batang Kumu ramai-ramai datang ke lahan warga. Setibanya di lokasi, warga melihat masih ada sejumlah karyawan PT. MAI di lokasi.

Ada sekitar 7 sepeda motor milik petani Batang Kumu yang biasa dipakai angkut buah kelapa sawit dirusak karyawan PT. MAI. Ban dibacok hingga kendaraan tidak bisa dibawa keluar.‎

Sementara itu, Haris Daulay, selaku Kepala Dusun VI Huta Baru Bersatu, Kali Kapuk, Desa Batang Kumu, mengaku keributan dialami petani Kali Kapuk merupakan dampak dari putusan Mahkamah Agung (MA) yang akan mengeksekusi lahan petani dan akan diserahkan ke perusahaan.

Haris mengklaim, lahan yang disengketakan dengan PT. MAI bukan milik petani Kali Kapuk, ‎namun lahan milik Kelompok Tani Harapan Makmur Desa Batang Kumu.

Haris mengatakan konflik di perbatasan Riau-Sumut karena kurangnya perhatian pemerintah kepada petani. Sudah 5 tahun lebih sejak 2015, konflik berkepanjangan antara petani dengan PT. MAI di perbatasan Riau-Sumut ini harus diselesaikan serius oleh pemerintah.

“Terpenting dalam hal ini sebenarnya pemerintah. Harus‎ punya tindakan tegas menyelesaikan masalah ini, supaya jangan berkelanjutan pertikaian antara masyarakat dengan perusahaan, PT. Mazuma Agro Indonesia,” sebut Haris.

Warga berharap ke Polsek Tambusai dan Polres Rohul, agar menindaklanjuti laporan warga saya ini, sebab kendaraan mereka juga dirusak. Sebenarnya ini tidak etis‎ perbuatan perusahaan. Jangan main hukum rimba seperti itu. (sof)

 

 

Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan